Gusti Bujang Mas, yang akrab disapa Wak Ujang, adalah seorang
tokoh adat dan budayawan yang lahir di Sekucing Baru pada 16 Juni 1976.
Berjenis kelamin laki-laki, saat ini ia tinggal di Rt 3 Rw 2 Desa Penjalaan,
Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, dan dapat dihubungi melalui
WhatsApp di +62 822-5319-9123.
Nama akrabnya disapa Wak
Ujang dikenal luas sebagai salah satu budayawan yang sangat aktif dalam
bidang perlindungan hak adat dan tradisi di wilayah Kerajaan Simpang
Matan. Dedikasinya terhadap pelestarian budaya tercermin dari perannya
sebagai Ketua Lembaga Adat Perundohan Tanah Simpang (PERTASIM). Melalui
organisasi ini, ia bersama rekan-rekannya secara konsisten berjuang untuk melindungi
dan melestarikan adat serta budaya setempat.
Gusti Bujang Mas merupakan keturunan bangsawan (darah biru) dari Kerajaan Simpang Matan. Mengalir dalam nadinya darah para pejuang yang secara historis gigih angkat senjata melawan penjajahan kolonial Belanda, di antaranya adalah Raja Gusti Panji dan Gusti Hamzah (yang telah diakui secara resmi oleh Pemerintah Republik Indonesia dan dinobatkan sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan).
Garis silsilah pejuang ini ia warisi dari jalur sang ibu, dengan rincian trah sebagai berikut: Utin Anun (Ibu) ➔ anak dari Gusti Maskat ➔ anak dari Gusti Ismail ➔ anak dari Gusti Panji (Panembahan Anom Suryaningrat).
Keterkaitan historis yang sangat erat tampak pada sosok Gusti Maskat (kakek Gusti Bujang Mas), yang merupakan saudara kandung kandung dari Gusti Hamzah sang Pahlawan Perintis Kemerdekaan.
Tidak hanya di lingkup
lokal, Gusti Bujang Mas juga merupakan aktivis hak adat yang cakupannya
meliputi wilayah Kayong Utara dan Ketapang, Kalimantan Barat. Ia dihormati
sebagai budayawan tradisi dan juga pengampu ritual adat belamin, menunjukkan
pemahamannya yang mendalam terhadap praktik-praktik budaya leluhur.
Pada tahun 2023 ia bersama
dinas terkait ke Jakarta untuk sidang penetapan warisan budaya tak benda dengan
membawa adat budaya Belamin untuk diakui sebagai adat budaya leluhur dari tanah
Simpang Matan. Selain itu, ia juga berperan sebagai juru sejarah di Yayasan
Sultan Muhamad Jamaludin Kerajaan Simpang Matan, sebuah posisi yang mengukuhkan
kredibilitasnya dalam menjaga narasi sejarah lokal.
Selain kiprahnya di bidang adat dan budaya, perjalanan hidup Gusti Bujang Mas juga membawanya masuk ke dunia akting. Ia pertama kali menjajal dunia seni peran dalam Film Perang Belangkaet pada tahun 2020, di mana ia didapuk sebagai aktor utama. Film ini memiliki latar belakang sejarah di Kerajaan Simpang pada tahun 1915, sebuah topik yang tentu sangat relevan dengan keahliannya sebagai juru sejarah.
Ketertarikannya pada dunia
akting bermula ketika ia diajak oleh Lembaga Simpang Mandiri (LSM), sebuah
komunitas lokal yang telah aktif di tanah Kayong sejak tahun 2005. Sejak saat
itu, ia menjadi anggota aktif dalam setiap produksi dan kegiatan yang diadakan
oleh LSM. Keterlibatannya berlanjut dengan menjadi aktor dalam Film Rimba
Kumang pada tahun 2022.
Lembaga Simpang Mandiri
(LSM) sendiri, selain aktif dalam kegiatan perfilman, juga berdedikasi dalam
perjuangan pelestarian, pengembangan, dan perlindungan kebudayaan, khususnya di
wilayah Kabupaten Kayong Utara dan sekitarnya. Berbagai kegiatan dan karya yang
dihasilkan oleh LSM, termasuk film-film yang dibintangi Gusti Bujang Mas, dapat
disaksikan melalui kanal YouTube Kayong TV.


0 Komentar