![]() |
| Klik Gambar untuk mendownload buku |
Buku ini lahir dari
kesadaran mendalam akan posisi Nyapat Taon sebagai
penanda peradaban agraris tua di Tanah Kayong. Ritual ini bukan sekadar upacara
pascapanen, melainkan sebuah narasi yang merekam sejarah panjang sinkretisme damai antara akar budaya pribumi Dayak dan
ajaran Islam yang dibawa oleh tokoh-tokoh terhormat. Di dalamnya, kita
menemukan kunci untuk memahami identitas unik Melayu Kayong: bukan hanya orang Islam pesisir, tetapi orang
Islam yang berladang dan sangat terikat pada kearifan ekologis.
Kami menyadari bahwa
di tengah derasnya arus modernitas dan konversi lahan, tradisi Berladang dan ritual pendukungnya, seperti Nyapat Taon,
berada di ambang kepunahan. Kisah tentang Rimba Kumang, Ancak yang disesuaikan secara Islam, dan semangat Berandep yang mengikat persatuan, kini hanya tersisa di
beberapa desa yang gigih mempertahankan tradisi. Oleh karena itu, tulisan ini
adalah seruan untuk pelestarian terintegrasi—bahwa
penyelamatan budaya harus dimulai dari penyelamatan sistem ekologi dan mata
pencaharian yang melandasinya.
Kami menyampaikan
terima kasih yang tak terhingga kepada para narasumber utama kami: Bapak M Jusup (Dukun Padu Banjar), Bapak Tok Lang Bungkan (Dukun Sungai Mata Mata), Bapak Raden Jamrudin (Budayawan Kabupaten Kayong Utara), dan
Bapak Amsin (Dukun Desa Penjalaan). Kontribusi, cerita, dan
pengetahuan mendalam mereka adalah ruh dari karya ini. Tanpa kerelaan dan
kearifan mereka dalam berbagi, dokumentasi ini tidak mungkin terwujud.
Harapan kami, kajian
ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam upaya penetapan Nyapat Taon sebagai
Warisan Budaya Takbenda (WBTB) dan dapat menjadi sumber rujukan bagi pemerintah
daerah, akademisi, dan generasi muda Kayong Utara untuk terus menghargai,
menjaga, dan mempraktikkan kearifan lokal yang telah diwariskan oleh nenek
moyang selama ribuan tahun.
Semoga Allah SWT
senantiasa melimpahkan keberkahan dan keselamatan bagi kita semua.

0 Komentar